Banyak jenis makanan dan minuman menggunakan plastik sebagai pembungkus kemasannya, karena sifatnya yang praktis dan tahan lama. Tanpa pengelolaan yang tepat, banyak sekali bahaya yang ditimbulkan dari plastik ini. Bagaimana bisa?
Yuk simak materi berikut ini!
Pada tahun 2015, 192 negara di dunia diketahui menghasilkan sampah sebanyak 2,5 miliar ton per tahun. Dimana, 275 juta metrik ton adalah sampah plastik, dan 8 juta metrik ton akan berakhir di lautan.
Menurut data dari World Economic Forum pada tahun 2016, di tahun 2025 perbandingan jumlah sampah plastik dan ikan di laut adalah 1:3. Bahkan di tahun 2050, diprediksi jumlah sampah plastik akan lebih banyak daripada ikan.
Bila benar terjadi, maka kita akan merasakan kerugiannya. Bukan hanya sumber pangan yang tercemar, tapi juga laut yang tidak bisa kita nikmati lagi keindahannya.
Tahukah kamu, berapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan setiap tahunnya? Indonesia menghasilkan sekitar 67 Juta ton sampah setiap tahunnya dan 15% nya adalah sampah plastik (sumber: Waste4Change). Jumlah ini membawa kita menduduki peringkat kedua penghasil sampah plastik terbesar di dunia setelah Tiongkok. Namun mirisnya, hanya sekitar 5 persen saja yang didaur ulang. Lalu, ke manakah sisanya? Ada yang berserakan di selokan, sungai, laut, bahkan ada yg sudah masuk ke dalam tubuh kita.
Sampah yang kita buang sehari-hari memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk dapat hancur atau terurai di alam.
Meskipun ada plastik yang dianggap ramah lingkungan tersebut tetaplah sulit terurai karena masih mengandung campuran bahan kimia plastik konvensional. Sehingga, ketika plastik tersebut terurai, akan tetap butuh waktu yang lama dan akan menjadi mikroplastik.
Lalu apa solusinya?
Solusinya adalah dengan mengelola sampah plastik secara bijak. Salah satu yang bisa kamu terapkan untuk sampah plastik adalah seperti berikut.
Produksi plastik masa depan diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035 dan hampir empat kali lipat pada tahun 2050. Plastik berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi dengan pola produksi dan penggunaan linear seperti saat ini, menyebabkan penipisan sumber daya alam, limbah, degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan merugikan kesehatan manusia.
Secara historis, plastik sebagian besar diproduksi di Eropa dan Amerika Serikat. Namun, baru-baru ini bergeser ke Asia. Cina sekarang menjadi produsen utama global yaitu 28% pada tahun 2015, sedangkan negara-negara Asia lainnya, termasuk Jepang yang memproduksi 21% plastik.
Di Indonesia, kalau penanganan sampah plastik masih berjalan seperti sekarang, maka akan ada kenaikan sampai 30% di tahun 2025, dan menjadi dua kali lipat di tahun 2040!
Lalu, apa sih yang jadi visi pemerintah Indonesia untuk mengendalikan masalah ini? Coba simak lima intervensi yang dilakukan supaya gunungan sampah plastik tidak berlipat ganda.
Kita juga bisa sepakat bahwa masalah ini tidak bisa ditangani oleh satu pihak, tapi harus ada kerjasama antara pemerintah, swasta dan termasuk juga individu seperti kamu.
Jadi, ayo mulai berbuat sesuatu untuk mendukung aksi pengurangan sampah plastik yang terbawa ke laut serta penanganan plastik yang sirkular!
Pertanyaan 1
Dalam praktik ekonomi linear, pembuatan produk tidak memikirkan apakah material yang digunakan dalam produk tersebut bisa digunakan kembali atau tidak. Sehingga praktik “ambil - guna - buang” pada ekonomi linear tersebut produk menjadi sampah
Pertanyaan 2
Memperbaiki lingkungan kerja untuk mendukung pekerja sektor daur ulang, adalah salah satu rekomendasi aksi menuju sistem pengelolaan plastik yang sirkular. Selain itu, rekomendasi lain untuk permasalahan sebelumnya adalah edukasi publik tentang pengolahan sampah; membuat master plan untuk daur ulang dan manajemen sampah di setiap kota/kabupaten dan provinsi.